Sabtu, 12 November 2011

Perlawanan Terhadap Kolonialisme di Bali


PERLAWANAN TERHADAP KOLONIALISME DI BALI
1.      Pendahuluan
Hubungan masyarakat Bali dengan bangsa Belanda terjadi pada abad ke-17. Ketika itu, VOC sering mengadakan hubungan dagang. Sering kali VOC berusaha untuk mengadakan perjanjian dengan raja-raja Bali, tetapi tidak berhasil. Di Pulau Bali pada saat itu terdapat beberapa kerajaan, yaitu Buleleng, Karangasem, Klungkung, Gianyar, Badung, Jembrana, Tabanan, Mengwi, dan Bangli.
Usaha Belanda untuk mengadakan perjanjian dengan kerajaan yang ada di Bali baru berhasil pada tahun 1841 saat raja Karangasem meminta bantuan dari pemerintah Belanda untuk memulihkan kekuasaannya di Lombok. Hal ini dimanfaatkan oleh pemerintah Belanda mengikatnya dengan perjanjian dan membuka hubungan politik dengan seluruh kerajaan di Bali.
Perjanjian itu ditandatangani oleh Raja Klungkung, Badung, Buleleng dan Karangasem. Dalam perjanjian itu disebutkan raja-raja Bali mengakui kekuasaan Belanda dan mengizinkan pengibaran bendera Belanda di daerahnya. Dalam perjanjian tersebut terlihat bahwa pemerintah Belanda ingin memperluas daerah kekuasaannya.
Masalah yang menyulitkan hubungan Belanda dengan Kerajaan Bali adalah berlakunya Hak Tawan Karang, yaitu hak Raja Bali untuk merampas perahu yang terdampar di wilayahnya. Belanda banyak mengalami kerugian dengan berlakunya Hak Tawan Karang tersebut. Pada tahun 1844, di Pantai Pracak dan Sangit terjadi perampasan terhadap kapal-kapal Belanda yang terdampar. Asisten Residen Banyuwangi Ravia de Lignij datang ke Bali untuk membuat perjanjian penghapusan Hak Tawan Karang ini. Dia pun menuntut Kerajaan Bali tunduk kepada kekuasaan Belanda.
Raja Buleleng dan patihnya menolak kedua tuntutan itu. Apalagi Belanda menuntut ganti rugi atas kapal-kapalnya yang dirampas. Raja Buleleng, I Gusti Ngurah Made dan patihnya, I Gusti Ketut Jelantik segera menyiapkan pasukannya beserta perlengkapan untuk menentang Belanda. Pada tanggal 24 Juni 1846, Belanda mengirimkan ultimatum agar dalam tempo 3 x 24 jam, Raja Buleleng mengakui kekuasaan Belanda dan menghapuskan Hak Tawan Karang. Namun hingga batas waktu tanggal 27 Juni 1846, Raja Buleleng tetap menolak. Selain Raja Buleleng, Kerajaan Karangasem juga telah menyatakan sikap menentang pemerintah Belanda.
2.      Jalannya Perang
Situasi di Bali menjadi tegang karena sikap kerajaan Buleleng dan Karangasem. Dalam keadaan demikian, Gusi Jelantik mempersiapkan parajurit kerajaan Buleleng dan memperkuat kubu-kubu pertahanan untuk menjaga kemungkinan apabila sewaktu-waktu Belanda mengadakan penyerangan.
Setelah diketahui raja Buleleng tidak memberikan jawaban atas ultimatum, pasukan Belanda mulai mengadakan pendartan. Prajurit-prajurit Bali sementara telah bersiap-siap untuk menyambut serangan pasukan yang mendarat. Tembak-tembakan mulai berlangsung. Tembakan-tembakan meriam dari kapal Belanda telah menyebabkan pasukan Bali mundur dari daerah pantai. Pertempuran meluas sampai di kampung-kampung dan sawah-sawah.
Pertahanan prajurit Bali yang berada di kampung-kampung dekat pantai satu demi satu akhirnya jatuh ke tangan Belanda. Demikian pula benteng prajurit Bali di Buleleng setelah dipertahankan dengan gigih pada tanggal 28 Juni 1846 terpaksa ditinggalkan dan diduduki oleh pasukan Belanda.
Raja Buleleng dan gusti Jelantik besarta pasukannya terpaksa mundur ke Jagaraga Jelantik dan berdamai dengan Belanda. Dalam perjanjian yang diadakan, Belnda mengajukan syarat, bahwa didalam waktu tiga bulan raja Byuleleng harus mengahapuskan benteng-bentengnya raja buleleng harus pula mengganti ¾ jumlah biaya perang yang telah dikeluarkan Belanda. Dlam perjanjian yang diadakan pada tanggal 6 Juli 1946 itu juga disebutkan, Belanda diperbolehkan menempatkan serdadu-serdadu di Buleleng dalam suatu benteng yang akan segera dibuat.
Meskipun telah diadakan perjanjian, tidak berati kedua kerajaan tersebut sepenuhnya tunduk. Situasi di Bali ini menimbulkan kegelisahan pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Raja-raja Buleleng, Karangasem, dan Klungkung menerima ultimatum dari pemerintah Hindia Belanda yang isinya: agar raja-raja tersebut segera menyerahkan serdadu-serdadu Belanda dan tahanan yang melarikan diri; agar dalam waktu 14 hari telah mengirimkan utusan terdiri terdiri dari dari orang-orang terkemuka untuk minta maaf.
Raja-raja Bali tidak memperdulikan ultimatum tersebut, sebaliknya makin giat memperkuat pasukannya. Pada tanggal 6 Juni 1848 di Sangsit mendarat sebagian pasukan Belanda.
Didalam pertempuran yang terjadi selama tiga jam di empat benteng Jagaraga tersebut, pasukan Bali telah dapat menewaskan lima Opsir, dan juga 74 serdadu Belanda. Di samping itu tujuh Opsir dan 98 serdadu menderita luka-luka. Jenderal van der Wijck yang memimpin pasukan darat tidak erhasil memukul mundur pasukan Bali meninggalkan garis pertahanan. Karenanya ia menarik mundur pasukannya, kembali ke pantai.
Kegagalan ekspedisi militer Belanda ke Bali pada tahun 1848 menambah kepercayaan raja-raja Bali akan kekuatan mereka. Sementara itu militer kerajaan-kerajaan makin ditingkatkan. Benteng-benteng pertahanan baru dibangun, seperti di Kusumba, Klungkung, Karangasem.
Kekhawatiran raja-raja Bali bahwa Belanda akan datang lagi di Bali, ternyata menjadi sebuah kenyataan. Pada akhir bulan Maret dan awal bulan April 1949 pasukan Belanda dibawah pimpinan Jenderal Michiels mendarat di Bali. Teksin pendarat bergelombang, dan sasaran adalah benteng Jagaraga. Pada tanggal 31 Maret 1849 sebagian pasukan Belanda berkekuatan 700 orang, terdiri dari Angkatan Darat dan Laut, mendarat di pantai Buleleng.
Raja Buleleng mengirim utusan untuk menemui pasukan Belanda di Singaraja, bahwa ia bersedia mengadakan perdamaian. Kemudian raja Buleleng dan Karangasem mengirimkan utusan pada tanggal 2 April 1849.
Dalam pertemuan, Jenderal Michiels mengajukan pokok-pokok perjanjian yang antara lain menyebut bahwa raja Buleleng dan Karangasem harus mengakui kekuasaan Hindia Belanda; mereka harus mengosongkan dan menyerahkan benteng Jagaraga dan menyerahkannya kepada Belanda.
Pada tanggal 11 April pertemuan diadakan lagi di Sangit, pihak Belanda menuntut agar pada tanggal 15 April benteng Jagaraga sudah mulai diruntuhkan, dengan ancaman jika sampai tanggal tersebut tidak dilakukan maka perjanjian perdamaian batal.
Sampai tangga 15 April raja-raja tidak juga mulai membongkar benteng. Suasana menjadi tegang dan pertempuran meletus lagi. Prajurit-prajurit Bali melepaskan tembakan-tembakan dari pertahanan mereka, dan dapat  menahan serangan tentara dari berbagai arah. Serdadu Belanda kepayahan, karena disamping sulitnya mencapai benteng, juga karena mereka kekurangan air minum. Pasukan Belanda ditarik mundur. Dalam pertempuran ini tentara Bali dapat menewaskan juga Opsir Belanda, 17 Opsir rendah dan serdadu dan mengalami luka-luka sebanyak 8 Opsir rendah dan serdadu.
Keesokan harinya, tanggal 16 April benteng Jagaraga diserang Belanda secara mendadak. Prajurit Bali terkejut. Dalam pertempuran yang sengit prajurit Bali tidak dapat menghalau pasukan musuh bahkan mereka terdesak dan terpaksa meninggalkan benteng-bentengnya, pagi hari itu juga benteng-benteng tersebut jatuh ke tangan musuh.    
3.      Akhir Perang
Setelah jatuhnya buleleng ke tangan Belanda banyak beberapa kerajaan yang menjadi lunak dan berdamai kepada Belanda. Namun masih ada juga kerajaan yang menunjukan sikap menentang seperti kerajaan Karangasem dan Klungkung, sedanngkan Raja Badung dan Bangli berpihak kepada Belanda. Raja Badung bersedia membantu menyeraang Klungkung. Raja Bangli menyanggupi akan menghalangi Raja Karangasem dan Raja Klungkung untuk lari ke gunung. Bukan hanya itu, terdapat juga  penghkianatan di kubu Kerajaan Karangasem, seorang patih Karangasem, Gusti Made Jungutan mempunyai hubungan gelap dengan Raja Mataram. Raja Mataram  menggabungkan pasukannya dengan pasukan Lombok untuk membantu Belanda.
Pada tanggal 9 Mei  1849 Jendral Mayor A.V Michieles dan Van Swieten beserta pasukannya mendarat di teluk Labuhan Amuk yang berdekatan dengan batas Kerajaan Klungkung. Serangan ini mendatangkan pasukan yang berjumlah 15000 orang lebih terdiri dari pasukan infanteri, kavaleri, artileri. Karena sebagian rakyat di daerah dekat pantai sudah banyak yang menyerah terhadap Belanda maka pertahanan di wilayah Kerajaan Karangasem menjadi lemah sehingga Raja pun meninggal dan Kerajaan Karangasem pun diduduki oleh Belanda.
Setelah Karangasem, Klungkung dijadikan sasaran oleh Belanda. Pasukan Bali di Kusumba yang terletak di pantai Klungkung sudah bersiap-siap untuk menahan Belanda. Namun serangan Belanda berasal dari 2 arah yaitu dari arah belakang dan arah pantai. Di pagi berikutnya perjalanan itu berlanjut, namun di malam hari pasukan Bali melancarkan serangan atas kampung itu, dan dalam serbuan itu Michiels terluka parah di pahanya dan tewas saat itu juga setelah diamputasi. Sebelumnya juga telah diberitakan bahwa Raja-raja Badung dan Tabanan sehari sebelumnya telah mengirimkan pasukan sebanyak 16.000 orang. Dengan demikian pasukan Bali tersebut pun  menyingkir.
Pada tanggal 12 Juni para utusan kerajaan berkumpul di Markas Besar Belanda untuk menemui Gubenur Jendral di Jakarta. Para utusan itu ialah :
1.    Klungkung                         : Ida Nyoman Pedada dan Ida Wayong Bagus
2.    Negara Badung      : Ida Made Rai, Pembekel Tuban dan Ida Nyoman Mas
3.    Negara Tabanan     : Made Yaksa
4.    Negara Gianjar       : Dewa Nyoman Rai dan Gusti Putu Petasan

Sumber: Djoened, Poesponegoro Marwati dan Notosusanto Nugroho. 1993. Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta: Balai Pustaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar