Kamis, 30 Juni 2011

KEN AROK


Ken Arok
            Ken Arok adalah putera Bhatara Brahma akibat perzinaan dengan Ken Ndok, istri Gajah Para di Ladang Lalateng.
            Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Ranggah Rajasa Batara Sang Amurwabumi hanyalah sampah masyarakat belaka. Namanya melekat dengan sarangnya, Padang Karautan (sarang persembunyian Ken Arok ketika menjadi penyamun versi SH. Mintardja, penulis Bara di Atas Singgasana) yang berada tidak jauh dari istana Singasari. Ia terkenal sebagai rampok, maling, penyamun dan perbuatan tidak terpuji lainnya. Meski ia seorang penyamun, otaknya jalan dan encer, bahkan jahat. Setidaknya Ken Arok, anak putera Bhatara Brahma akibat perzinaan dengan Ken Ndok, istri Gajah Para di Ladang Lalateng ini bias menggunakan akalnya untuk menggapai sebuah kesempatan yang ia peroleh setelah Brahma Lohgawe membawanya ke istana Pakuwon Tumapel.
            Sebelum pergi ke Tumapel, Ken Arok mendatangi Bango Samparan yang tak lain bapak angkatnya. Bango Samparan memberi nasehat, agar Ken Arok sebelum pergi membunuh Tunggul Ametung di istana Tumapel, pergi dahulu ke Lulumbung menemui pandai keris Mpu Gandring kawan karib Bango Samparan. Berbekal pengalaman sebagai perampok, membunuh bukan hal luar biasa baginya. Pembunuhan pertama ia lakukan kepada pembuatk keris. Mpu Gandring yang membuatnya jengkel karena telah sekian lama keris pesanannya belum selesai juga. Dengan bengis Ken Arok membenamkan pusaka itu ke dada pembuatnya, Mpu Gandring yang kemudian menjatuhkan kutukan bahwa keris itu akan meminta banyak nyawa termasuk Ken Arok.
            Kebengisan berdarah dingin dan menghalalkan segala macam cara, ditimpakkan pula kepada Kebo Ijo (nama prajurit Singasari yang menjadi korban fitnah Ken Arok) yang kepadanya keris itu dipinjamkan sehingga kemudian banyak orang di Tumapel mengira keris yang menancap di dada Tunggul Ametung adalah milik Kebo Ijo karena sebelumnya kemana-mana Kebo Ijo selalu pamer keris itu. Tanpa banyak bicara Ken Arok membunuh Kebo Ijo sebagai tertuduh, dengan mengabarkan saksi yang terbungkam mulutnya, Ken Dedes, anak seorang Mpu Linuwih, Mpu Purwa dari Panawijen.
            Kemudian terjadilah perkawinan antara Ken Arok dan Ken Dedes yang dari awal benar-benar sudah dirancang oleh Ken Arok, bukan sekedar oleh alasan betis Ken Dedes bercahaya, Ken Arok mengawini Ken Dedes meskipun perempuan ini sedang hamil dari suaminya terdahulu. Dengan demikian ia berhasil menggapai tahapan awal dari rencana jangka panjang yang dirancangnya. Dengan mengawini Ken Dedes, Ken Arok dengan sendirinya memperoleh kedudukan sebagai akuwu di Tumapel. Di samping Ken Dedes, Ken Arok juga mengawini Ken Umang.
            Dari perkawinanya dengan Ken Dedes, Ken Arok berputra antara lain Mahesa Wong Ateleng, Panji Saprang, Agnhibaya, dan Dewi Rimbu. Sementara itu, dari perkawinannya dengan Ken Umang, Ken Arok berputra Tohjaya, Panji Shudatu, Panji Wergola, dan Dewi Rambi.
            Bahwa Ken Arok benar-benar berkeinginan menjadi raja, hal itu terlihat saat Ken Arok tidak lagi menghadap raja Kertajaya di Kediri. Hal itu menimbulkan rasa curiga pada Kertajaya. Ken Arok disangka akan memberontak. Kertajaya bersumber bahwa Kediri tidak akan dapat tundukkan oleh sipapun, kecuali oleh Bhatara Guru(Syiwa). Mendengar sesumber itu, Ken Arok memanggil para pendheta dan rakyat untuk menyaksikan bahwa ia mengambil nama Bhatara Guru dan memerintahkan tentara Tumapel bergerak menyerbu Kediri. Pertempuran sengit antara Tumapel dan Kediri berkobar disebelah utara desa Ganter. Dalam pertempuran itu, Mahisa Walungan dan Gubar Beleman, hulubalang Kediri tewas karenanya, bala tentara Kediri kocar-kacir dan raja Kertajaya lari mencari perlindungan di dalam candi (dewalaya). Kediri jatuh dalam kekuasaan Tumapel tahun 1222, Ken Arok menjadi raja pertama Singasari yang beribukota di Tumapel mulai 1222-1227, hanya dalam waktu 5 tahun.





BRONGOT SETAN KOBER (keris Mpu Gandring), membunuh:
Mpu Gandring
Tunggul Ametung
Kebo Ijo
Ken Arok
Tohjaya
Pangalasan dari Batil
Anusapati

Singasari Setelah Ken Arok
1.      Anusapati (1227-1248)
Anusapati (anak Ken Dedes dari suami pertama, akuwu Tunggul Ametung) yang tidak bias menerima kematian ayahnya atau barangkali oleh alasan yang lain, ia merebut kekuasaan. Dengan meminjam tangan pengalasan dari Batil, yang kepadanya dipinjamkan keris Mpu Gandring, Ken Arok dibunuh. Anusapati naik tahta dan memimpin negara lumayan lama, selama 21 tahun dari tahun 1227 hingga 1248 bergelar Anusanatha. 
2.      Tohjaya (1248)
Tohjaya (anak Ken Arok buah perkawinannya dengan Ken Umang) tidak bias menerima kematian ayahnya. Melalui tipu daya adu juga di sebuah pasar, Anusapati dibunuh. Anusapati dicandikan di Kidal. Tohjaya menggantikan naik tahta, menjadi raja yang ternyata tidak lebih dari setahun pada tahun 1248.
Ketika Tohjaya naik tahta, hidupnya diliputi ketakutan dan curiga terutama kepada Ranggawuni putera Anusapati dan Mahisa Cempaka puterab Mahisa Wang Ateleng. Mereka berdua datangmenghadiri penobatan Tohjaya. Melihat mereka datang, Panji Tohjaya berbisik kepada Pranaraja. Intinya, Tohjaya heran kedua keponakannya sungguh gagah perkasa. Sang Pranaraja mengungkapkan bahwa walaupun gagah perkasa, namun perlu dicurigai karena cukup membahayakan. Tohjaya marah mendengar itu, lalu menyuruh Lembu Anpal untuk membunuhnya.
Seorang Brahmana yang mendengar bisik-bisik tersebut menasehati Ranggawuni dan Mahisa Cempaka untuk bersembunyi di rumah Panji Patipati. Lembu Anpal tidak berhasil menyurnakan mereka dan harus menjalani hukuman mati. Karena takut, ia malah memihak kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Lembu Anpal mengatakan akan setia kepada Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Atas hasutan Lembu Anpal, timbul perselisihan antara regu Rajasa dan Sinelir. Tohjaya berniat menyirnakan kedua belah pihak yang berselisih. Baik kepala regu Rajasa maupun kepala regu Sinelir mencari Ranggawuni untuk memohon perlindungan. Setelah diambil sumpah setra, mereka disuruh pulang. Pada waktu senja, orang-orang Sinelir dan Rajasa bersenjata lengkap berkumpul dirumah Panji Patipati. Dari situ, mereka bergerak serentak menyerbu istana. Tohjaya terkejut mendadak melihat serangan musuh dan berusaha melarikan diri. Namun, ia terkena tusukan tombak dan tidak dapat berjalan. Setelah keributan agak reda, ia dicari oleh pengikut-pengikutnya dan diungsikan ke Katang Lumbung. Sampai di Katang Lumbung ia meninggal. Pararaton mencatat wafat Tohjaya pada tahun saka 1172 (1250 A.D). Nagarakertagama sama sekali tidak menyinggung namanya, barangkali karena pada hakikatnya Panji Tohjaya tidak mempunyai sangkut paut dengan dinasti Rajasa di Majapahit.
3.      Wisnuwardhana (Ranggawuni)
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka menyelenggarakan pemerintahan atas Singasari secara bersama-sama. Ranggawuni bergelar Sri Jayawisnuwardhana, sementara Mahisa Cempaka bergelar Ratu Angabhaya atau juga disebut Narasinghamurti. Pemerintahan kakak beradik ini lumayan lama dan tenteram mencapai 20 tahun yaitu 1248 sampai 1268. Sri Jayawisnuwardhana meninggal di Mandaragiri 1268 dan dicandikan sebagai Siwa di Jayaghu.
Dalam prasasti Malu-Malurung nama Wisnuwardhana tidak pernah disinggung, yang disebut malah Seminingrat Jagannatha, kudua-duanya dinyatakan secara jelas sebagai ayah Sri Kertanegara, dan dianggap sebagai titisan Wisnu atau Wisuwawatara (lempengan 1x8). Nama Jayannatha adalah singkatan dari Wisnu-Jagannatha dalam mitodologi India, jadi sejajar dengan Wisuwawatara. Baik baik dalam nagarakertagama maupun dalam pararaton, nama Wisnuwardhana dianggap nama Abiseka.
Menurut pararaton, setelah penyatuan kerajaan Kediri dan Singasari, Mahisa Cempaka mengambil nama Abiseka Narasingamurti dan menjadi Ratu Angabhaya (wakil raja atau pemgbantu raja). Nagarakertagama pupuh 41/2 mengibaratkan pemerintahan bersama Wisnuwardhana dan Narasinghamurti sebagai pemerintah Indra dan Madhawa. Prasati Kudaku, 1294 menguraikan bahwa Narasinamurti adalah nenek Dyah Sangrama Wijaya, pendiri kerajaan majapahit pada tahun 1293. Nama Narasinamurti tidak disinggung sama sekali dalam prasasti Mula-Malurung. Seperti telah disinggung, mungkin nama garbhopatinya ialah Narajaya. Ia dinobatkan sebagai raja di Hering. Berdasarkan pararaton, Mahisa Cempaka memang adik sepupu Ranggawuni alias Wisnuwardhana. Jadi, kemungkinan besar Narajaya adalah nama garbhopati, sedangkan Narasinga adalah nama Abiseka seperti halnya Seminingrat adalah nama garbhopati sedangkan Wisnuwardhana adalah nama Abiseka.
4.      Kertanegara dan Runtuhnya Singasari
Raja singasari berikutnya adalah Kertanegara, anak Ranggawuni yang ngelar (melebarkan kekuasaan) jajahan hingga ke Sumatera, Pahang, Bakalapura dan Gurun. Baginda Kertanegara yang memimpin negeri selama 24 tahun, yaitu sejak 1268 sampai 1292 memiliki enam orang anak, empat diantaranya dikawinkan senua dengan Raden Wijaya.
Dalam Kidung Harsawijaya pupuh1/28b sampai 30a, disebut dengan jelas bahwa Prabu Kertanegara melorot Mpu Raganata dari kedudukannya sebagai Patih Amangkubumi menjadi ramadhyaksa di Tumapel. Mpu Raganata kecewa, tidak senang kepada pemerintahan sang prabu.
Demikianlah sepeninggal Wisnuwardhana dan Bharata Narasingamurti, Prabu Kertanegara segera mengadakan perubahan besar-besaran dalam bidang administrasi untuk disesuaikan dengan pelaksanaan politik ekspansinya. Para pembesar yang telah lama mengabdi dalam pemerintahan Prabu Wisnuwardhana dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan politik baru yang akan dijalankan oleh Prabu Kertanegara, disingkirkan dan diganti oleh tenaga-tenaga baru yang menyetujui gagasan politik sang prabu. Perubahan itu menimbulkan kegelisahan diantara para pegawai dan rakyat.
Pararaton, kidung Panji Wijayakrama, kidung Harsawijaya dan Negarakertagama pupuh 41, semuanya menyebut pengiriman tentara singasari ke negeri Melayu (swarnabumi) pada tahun saka 1187 (1275 A.D.) lima tahun setelah pecahnya pemberontakan kelana Bhayangkara atau cayaraja. Dalam Kidung Harsawijaya, dinyatakan bahwa nasihat Raganatha tentang pengiriman tentara ke Swarnabumi ditolak oleh Prabu Kertanegara. Raganatha mengingatkan sang prabu tentang kemungkinan balas dendam Raja Jayakatwang dari kediri terhadap singasari, sebab singasari dalam keadaan kosong akibat pengiriman tentara ke Swarnabumi. Prabu Kertanegara berpendapat, raja bawaan Jayakatwang tidak akan memberontak karena beliau berutang budi kepada sang prabu. Jayakatwang adalah bekas pengalasan (pegawai) keraton singasari, yang diangkat sebagai raja bawaan dikediri oleh Sri Kertanegara. Gagasan pengiriman tentara ke Swarnabumi dapat dukungan penuh dari Mahisa Anengah, pengganti Raganatha. Demikian diputuskan untuk mengirimkan tentara ke melayu. Keputusan itu dilaksanakan pada tahun 1275 A.D. Dalam sastra sejarah zaman kuno, ekspedisi ke malayu itu biasa disebut pamalayu atau perang melawan melayu.
Ekspedisi ke malayu berhasil baik. Tentara Singasari berhasil menundukan raja malayu Tribhuwanaraga Mauliwarna dewa di Dharmasraya yang di jampi dan menguasai selat malaka. Terbukti dari isi piagam Amogahapasa atau piagam Padang Arca yang dikeluarkan oleh Sri Kertanegara pada bulan Bharadapata tahun saka 1208 (Agustus-September 1286 A.D).
Pada tahun 1280 A.D timbul pemberontakan yang dipimpin oleh Mahisa Rangkah menurut pemberitaan Nagarakertagama pupuh 41/1. Pembesar-pembesar yang kena pecat terutama adipati Wirajaya gi Sumenep, mendapat kesempatan baik untuk membalas dendam dan melampiaskan kemarahanyya kepada Sri Kertanegara. Ia menghasut raja bawahan Jayakatwang dari Kediri untuk memberontak dengan cara mengirim surat.
Setelah Jayakatwang membaca surat Wiraraja, taulah beliay akan makna isyarat yang disuarakan oleh Wiraraja dan segera bertanya kepada Wirondaya, pembawa surat tentang bagaimana keadaan Singasari sebenarnya, jawabnya, semenjak raja Kertanegara memegang tampuk kepemimpinan kerajaan, segala nasihan Mpu Raganatha dan para wreddha menteri di abaikan. Para wreddha menteri digeser dari kedudukan mereka dan diganti oleh menteri muda. Sang prabu cenderung untuk meminta segala nasihat dari menteri baru. Rakyat tidak puas dengan sikap yang demikian.
Jayakatwang melalui Jaran Guyang dan patih Mundarang menyerang lewat Mameling. Utusan dari Mameling sudah sampai di istana melaporkan bahwa tentara Kediri telah sampai di Mameling, namun prabu Kertanegara tidak percaya. Baru menyaksikan sendiri para pengungsi mengalir ke kota, beliau percaya akan kebenaran laporan, namun telah terlambat. Nararya Sanggramawijaya dengan bala tentaranya yang tidak siap berperang mendadak diperintahkan berangkat ke Mamelinguntuk menanggulangi musuh. Sementara itu, prabu Kertanegara tinggal di pura, mengenyam kenikmatan hidup seolah-olah tidak ada yang mengancam, di hadap oleh Pani Argragani.
Raja Kertanegara, Panji Angragani, Mpu Raganatha, dan Wira Kreti gugur dalam perlawanan gigih melawan musuh yang mendadak datang menyerbu kota singasari. Sejarah singasari berakhir dengan mangkatnya prabu Kertanegara pada tahun 1292. Nagarakertagama pupuh43/5 mencatat bahwa Sri Kertanegara pulang ke Jinalaya pada tahun saka 1241 (1292 A.D) dan diberi gelar “yang mulia di alam Siwa-Budha”.





Raja-raja Tumapel versi Pararaton adalah:
1. Ken Arok alias Rajasa Sang Amurwabhumi (1222 - 1247)
2. Anusapati (1247 - 1249)
3. Tohjaya (1249 - 1250)
4. Ranggawuni alias Wisnuwardhana (1250 - 1272)
5. Kertanagara (1272 - 1292)
Raja-raja Tumapel versi Nagarakretagama adalah:
1. Rangga Rajasa Sang Girinathaputra (1222 - 1227)
2. Anusapati (1227 - 1248)
3. Wisnuwardhana (1248 - 1254)
4. Kertanagara (1254 - 1292)












SILSILAH RAJA-RAJA SINGASARI dan MAJAPAHIT

Tunggul Ametung       +          Ken Dedes      +          Ken Arok       +          Ken Umang




















 

Anusapati                                            Mahisa Wang Ateleng                        Tohjaya
Ranggawuni                                        Mahisa Cempaka
Kertanegara                                         Lembu Tal
Dyah Ayu Rajapatni               +          Raden Wijaya +          Selir (Dara Petak)
           
                           Tri Buana Tungga Dewi       Kala Gemet (Srijaya Negara)






 

Selir + Hayam Wuruk + Prameswari  Dewi Iswari













 

Brhe Wirabumi Kusumawardhani + Wibramawardana + Selir    Negarawardana








 

                       
Wekasingsuko     Suwita    Kertawijaya (Brawijaya I) + Anarawati (P. Campa)
                                                            Prabu Rajasa wardhana (Brawijaya II)
                                                            Prabu Hyang Purwawisesa (Brawijaya III)
                                                            Prabu Pandanalas (Brawijaya IV)
                                                            Prabu Kerthabumi (Brawijaya V)
                                                            Prabu Girindrawardhana (Brawijaya VI)
Prabu Udoro (Brawijaya VII)


Hubungan Singasari dengan Majapahit
Pararaton, Nagarakretagama, dan prasasti Kudadu mengisahkan Raden Wijaya cucu Narasingamurti yang menjadi menantu Kertanagara lolos dari maut. Berkat bantuan Aria Wiraraja (penentang politik Kertanagara), ia kemudian diampuni oleh Jayakatwang dan diberi hak mendirikan desa Majapahit.
Pada tahun 1293 datang pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese untuk menaklukkan Jawa. Mereka dimanfaatkan Raden Wijaya untuk mengalahkan Jayakatwang di Kediri. Setelah Kediri runtuh, Raden Wijaya dengan siasat cerdik ganti mengusir tentara Mongol keluar dari tanah Jawa.
Raden Wijaya kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit sebagai kelanjutan Singasari, dan menyatakan dirinya sebagai anggota Wangsa Rajasa, yaitu dinasti yang didirikan oleh Ken Arok.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar